Pembangunan RSUD dr. Soedomo Ditargetkan Februari 2022 Rampung
pilarsumsel.com Trenggalek, Jawa Timur – Pembangunan Gedung ruang isolasi Covid 19 dan Instalasi Gawat Darurat Covid 19 di RSUD dr.Soedomo Trenggalek saat ini sedang berlangsung.
Anggaran Pembangunan Rumah sakit darurat Covid 19 RSUD Trenggalek ini bersumber dari pinjaman Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) senilai 150 miliar.
Sedangkan konstruksi dan pembangunan RSUD dr. Soedomo dilakukan oleh salah satu BUMN yakni PT. Pembangunan Perumahan (PP-red) Tbk.
Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin, mengatakan saat ini proses pembangunan rumah sakit darurat Covid 19 sudah mencapai 37 persen.
“Progres konstruksi gedung tersebut sudah mencapai 37 persen,” ujar pria yang biasa disapa mas Ipin saat mengunjungi pembangunan RSUD, Senin (3/1/2022).
Pihaknya menargetkan, dari 6 bulan kontrak kerja, diharapkan bisa dipercepat selesai akhir Februari 2022 nanti.
“Kita optimistis cepat selesai. Meski kontrak konstruksi selesai April, kami minta dipercepat akhir Februari,” kata Gus Ipin.
Dikatakan oleh Gus Ipin, kontrak pembangunan RSUD dr.Soedomo Trenggalek dimulai akhir Oktober 2021 yang lalu.
“Kemudian pengerjaan pondasi dimulai November dan ditinggikan mulai awal Desember,” ucapnya.
Dalam progres pembangunan rumah sakit darurat Covid 19 saat ini, pihak pelaksana telah menyerap anggaran 25 persen dari total anggaran yang sediakan.
“Dua puluh lima persen itu setara dengan 37 miliar,” ujar Mas Ipin.
Lebih rinci Mas Ipin menerangkan, bahwa untuk gedung pertama nantinya digunakan untuk instalasi gawat darurat, unit perawatan insentif, ruang operasi dan lain-lain.
“Sementara untuk gedung bagian belakang nantinya difungsikan untuk Isolasi jenazah Covid-19,” jelasnya.
Terpisah Kepala Dinas PUPR Kabupaten Trenggalek, Ramelan, optimis target 4 bulan yang ditetapkan Bupati Trenggalek untuk pembangunan ruang isolasi Covid-19 dan IGD RSUD dr Soedomo bisa tercapai.
“Kalau melihat cara kerjanya PT PP ini, saya yakin selesai. Seperti membuat jalan, ini hanya butuh waktu 2 hari. Mulai menggali, memasang bekisting dilakukan hanya dalam kurun waktu 2 hari saja,” terang Kepala Dinas PUPR Trenggalek.
Pembangunan sistem Design and Build
Dijelaskan juga oleh Ramelan, proses konstruksi pembangunan 2 fasilitas layanan publik itu menggunakan sistem Design and Build.
Design and Build sendiri merupakan kontrak konstruksi pekerjaan yang berhubungan dengan pembangunan suatu bangunan di mana penyedianya memiliki satu kesatuan tanggung jawab perancangan dan pelaksanaan konstruksi.
Ini baru pertama dilakukan di Trenggalek karena selama ini konstruksi itu direncanakan oleh konsultan perencana, dilaksanakan oleh pelaksana konstruksi dan diawasi oleh konsultan pengawas.
“Karena butuh waktu cepat dan pekerjaan komplek dibenarkan menggunakan Design and Build. Jadi dia merencanakan dan membangun. Sedangkan yang mengawasi dan yang mengendalikan itu manajemen kontruksi,” terangnya.
Ini pekerjaan pertama kali di Kabupaten Trenggalek dengan APBD (anggaran DAU) menggunakan Design and Build.
“Pelaksananya oleh PT Pembangunan Perumahan Tbk, dan manejemen konstruksinya oleh PT Indah Karya. Keduanya adalah BUMN,” ujarnya.
Sedangkan ditanya terkait total pagu anggaran sendiri, menurut Kepala Dinas PUPR ini senilai Rp 150 miliar.
“Namun angka itu belum tentu semua. Bisa jadi hanya seratus sekian, namun dalam perencanaannya ada ruang negatif atau satu lantai, sehingga dalam pelaksanaannya bila sisa, bisa untuk pembangunan lantai dua atau 3,” tandasnya.
(bud)